Catatan Hati Seorang Anak

by - November 06, 2014

Jumat, 16 Desember 2005.

Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan dan baru menginjak 6 bulan pertama belajar di sekolah tersebut.
Saat itu sedang ada acara sekolah jumbara tingkat kabupaten, bapak di rawat di rumah sakit tapi mamak masih memberi ijin untuk ikut kegiatan tersebut karena masih banyak keluarga yang menunggui bapak.
Pagi jam 10 saya dan teman - teman berangkat ke tempat perkemahan, selesai mendirikan tenda istirahat sebentar saya di panggil oleh pak guru, beliau memerintahkan saya untuk pulang dan membawa semua peralatan kemah.
Ada apa saya binggung kenapa saya harus pulang , apa salah saya sehingga harus di pulangkan lebih dahulu.
Di jalan saya ingat bapak yang sedang sakit tapi bukankah kemaren saya jenguk beliau keadaannya sudah membaik.
Air mata itu jatuh tak tertahan sepanjang perjalanan pulang ke rumah saya berusaha berfikir bahwa tidak terjadi apa - apa semua baik-baik saja.
Sampai di rumah tetangga sudah berkumpul menunggu kedatangan jenazah bapak.
Tangis makin tak tertahankan teringat beliau, bagaimana saya belum bisa memberika apa - apa tapi beliau sudah di panggil allah.
Tapi saya tau mamak pasti yang lebih sedih dan semua tanggung jawab kembali di bebankan kepada beliau.

Saya bangga memiliki mamak yang hebat,
Sempat seorang saudara menyarankan agar saya putus sekolah saja. Tapi mamak dengan tegas bahwa saya sanggup dan masih bisa menyekolahkan anak - anak sampai lulus sekolah. Saya tau bagaimana beliau dengan gigih nya berjuang untuk menyekolahkan saya dan adik saya dan juga menyukupi kebutuhan kami dengan segenap hati beliau.
Beliau memang bukan pegawai yang setiap bulannya mendapatkan uang gaji, beliau hanya seorang penjual jamu gendong yang mesti keliling dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengumpulkan rupiah. Dari pagi sampai siang beliau berjualan, kemudian sore hingga malam setiap harinya.
Lelah sudah pasti, capek jelas, tapi tidak sedikitpun beliau mengeluh. Karena perjuangan beliau untuk masa depan kami sekeluarga.

Sampai akhirnya saya lulus sekolah dan bekerja memperoleh pekerjaan.
Saya niatkan untuk kuliah sambil bekerja. Kuliah malam membuat mamak tidak tega. Apalagi saya perempuan.
Kembali saya masih merepotkan mamak, beliau menyarankan untuk membeli motor. Tapi dari dulu saya berprinsip kalo tidak bisa cash mending tidak usah karena sayang bayar bunga yang tinggi.

Kata mamak " yah sudah beli nanti di bagi 2 separo mamak separo kamu "
Alhamdulillah akhirnya kebeli juga motor untuk modal saya kuliah dan berhemat.

Tiba akhirnya saya lulus kuliah, ada acara wisuda dan mendapat 2 undangan untuk orang tua.
Bertempat di sebuah gedung acara di jakarta.
Mamak yang memang tidak terbiasa ke acara - acara seperti itu binggung...
Mau pakaian yang seperti apa, sandal seperti apa. Pantes gak? sampai keliling toko bersama lek sri untuk mencari perlengkapan.
Saya tau beliau bangga mungkin yang beliau rasa kan .
Segala rasa panas tersengat terik matahari, capek mengendong jamu, sedih karena candaan orang yang kadang keterlaluan terbayar sudah.
Saya dapat melihat rasa bangga, haru dan bahagia terlukis di wajah beliau...

Tahun pun berganti dan di ganti dengan waktu yang baru.
Sejak awal tahun mamak sering sakit. Tapi paling kerokan sembuh atau ke dokter umum...
Kalo sudah fit dagang lagi, istirahat di kampung kembali ke jakarta lagi.
Tahun ini katanya pengen perbaiki rumah. Rumah sudah bertahun - tahun tapi belum rapi kata beliau.
Adikku sudah menginjak tahun kedua di sekolah menengah kejuruan yang sama denganku. Jadi mamak sudah mulai santai tidak bekerja sekeras dulu lagi.
Masih teringat kata lek sri kemaren. katanya mamak bilang.

Sekarang mau cari uang nya santai, gak mau ngoyo kaya dulu lagi. Tinggal jaga kesehatan.
Nanti rista ( anak lek sri) di bawa ke jakarta saja. Nanti dagangnya gantian.
Kalau pagi lek sri yang keluar mamak jagain rista, kalo sore gantian mamak yang dagang....
Sejak awal puasa mamak pulang kampung karena memang kalo puasa beliau libur tidak bejualan.
Dan juga untuk memulihkan kondisi badan. Mungkin beliau kecapean.
Menjelang lebaran saya pulang kampung karena libur panjang. Ketemu memang rada pucat tapi beliau masih melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Semua masih terasa normal dan tidak ada masalah sedikitpun. Hanya setelah lebaran beliau memang kondisinya menurun.
3 minggu setelah lebaran mamak di rawat di rumah sakit selama 1 minggu. Ingin rasanya pulang tapi keluarga menyarankan tidak pulang tidak apa – apa dan mamakpun bilang demikian. Dalam diri sendiripun mencoba menguatkan hati tidak pulang tidak apa kan biaya pulang pergi bisa buat tambahan bayar rumah sakit.

15 Oktober 2014.
Saya pulang kampung akhirnya. Di telephon keluarga di kampung. Disuruh pulang katanya mamak sakit dan kangen sama saya.
Mamak saat itu menjalani pengobatan herbal oleh karena itu beliau di rawat di rumah. Tidak di bawa ke rumah sakit.
Sejak di rawat herbal kondisi beliau memang lemas tapi untuk batuknya sudah mendingan.
Saat saya tanya bagimana kondisinya beliau bilang mendingan perut tidak sakit, dada tidak sakit dan tidak pusing tapi beliau merasa lemas..

Saat di kampung saya mendengar cerita dari adik saya bahwa saya jadi gunjingan karena anak tidak berbakti, orang tua sakit tidak perduli.
Memang benar saya tidak menemani beliau ketika sakit selama 2 minggu.
Tapi kembali lagi kebutuhan yang tidak bisa di jabarkan dengan berita - berita negatif tersebut.
Kalo saat itu saya berhenti bekerja siapa yang akan membayar pengobatan mamak, sekolah adik saya, dan jua sekolah saya.
Tapi saya bukan orang yang bisa membaca masa depan yang bisa dengan mudah mengambil keputusan.

Akhirnya setelah 4 hari di rumah dan cuti sudah habis saya kembali ke cikarang.
Saya bekerja normal seperti biasanya walau perasaan kwatir dan cemas memikirkan kondisi mamak.
Setelah saya kembali kata keluarga memang kondisi mamak membaik beliau sudah bisa duduk sendiri dan sudah bisa berjalan walaupun di papah.
Alhamdulillah merasa senang, saya tau semangat hidup beliau tinggi dan juga keinginan beliau untuk sembuh.

24 Oktober 2014
Akhir pekanpun datang seperti rutinitas biasanya saya kuliah dan pulang jam 9 malam.
Karena lapar tas saya taruh di kasur dan hp saya tinggal di dalam tas. Saya makan dan nonton tv seperti biasanya...
Malam itu fikiran saya kemana - mana antara tidak bisa tidur karena memikirkan suatu masalah di kantor, saya menonton tv hingga jam 12 malam.
Sadar bahwa besok harus bangun pagi maka saya memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur saya wudhu dulu karena memang belum sholat isya'.
Kembali ke kamar saya cek HP ada 16 panggilan tak terjawab ( dari mbak yeni, yu mami dan kang nano) dan sebuah pesan masuk.
Langsung saya telepon kakang karena saya tahu pasti sesuatu telah terjadi dan memang benar.

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ  Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun
Mamak telah di panggil oleh sang pemilik kehidupan.

Seperti mati rasa malam itu antara tidak percaya kehilangan dan seperti mimpi. Karena yang saya tau beliau sosok yang tegar, kuat, mandiri dan jarang mengeluh.

Akhirnya saya pulang naik pesawat dan dapat penerbangan paling pagi. di pesawat sudah tidak bisa membendung air mata.
Ia menetes begitu saja begitu teringat akan mamak.
Pesawat mendarat di solo dan saya di jemput tetangga di jalan perjalanan pulang dari bandara kurang lebih 2 jam saya masih belum percaya.
Berusaha menguatkan hati, menjawab setiap pertanyaan tetangga di mobil yang mungkin mencoba mengalihkan fikiran saya dengan menanyakan aktifitas saya.

Sampai depan rumah rasanya tak percaya banyak tetangga dan sudah ramai ada apa?
Saya keluar dari mobil dan mendengar suara orang mengaji. Saya berlari dari mobil dan entah tiba - tiba semua menjadi gelap dan tubuhpun lemas.
Tersadar dari semua itu ternyata memang beliau sudah tidak ada, beliau sudah terbujur kaku.
Beliau telah menghadap allah dengan wajah yang begitu bersih.
Semoga sakit beliau sebagai pengugur dosa selama kehidupannya.
Sebagaimana bersihnya wajah beliau ketika terakhir kali saya melihatnya.

Selamat jalan mamak ku sayang.
Terima kasih allah telah engkau berikan seorang mamak yang begitu luar biasa dalam kehidupan ini.



Untuk teman - teman yang masih diberikah keberkahan dengan kelengkapan orang tua.
Jangan pernah mensia-siakah anugerah terindah itu,
Dua malaikat yang dkirimkan oleh allah untuk menjaga dan mengasihi kita.
Karena ketika kita bersedih merekalah yang merasakan kesedihan melebihi kita.
Ketika kita bahagia merekalah yang bahagia melebihi kita.

Bahagiakan orang tuamu selagi mereka masih bersamamu.

Cikarang, 07 November 2014.

You May Also Like

0 komentar

Baca Juga Kakak

Membentuk Kebiasaan Anak Dengan Hal Kecil Tapi Bermanfaat

  Tidak terasa tahun ini sudah memasuki bulan desember berarti sudah mendekati akhir tahun. Tahun 2020 ini menjadi tahun yang berat untuk ki...